DAMPAK
NEGATIF DARI TAYANGAN TELEVISI TERHADAP ANAK-ANAK
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata Kuliah
Pendidikan Lingkungan, Sosial, Budaya dan
Teknologi.
Nama : Ika Rikatriana
Nim : 0901424
Kelas : B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia. Dalam proses
komunikasi terdapat pertukaran informasi. Media massa yang dianggap paling
mempengaruhi khalayaknya dalam hal penyampaian informasi adalah televisi.
Kehadiran televisi dalam kehidupan manusia memunculkan suatu peradaban,
khususnya dalam proses komunikasi dan penyebaran informasi yang bersifat massal
dan menghasilkan suatu efek sosial yang berpengaruh terhadap nilai-nilai sosial
dan budaya manusia.
Program siaran televisi di Indonesia pada umumnya diproduksi
oleh stasiun televisi yang bersangkutan. Stasiun televisi dapat memilih program
yang menarik dan memiliki nilai jual kepada pemasang iklan, sementara
perusahaan produksi acara televisi dapat meraih keuntungan dari produksinya.
Pada umumnya isi program siaran di televisi meliputi acara seperti berita,
dialog interaktif, program pedesaan, periklanan, kesenian dan budaya, film,
sinetron, pendidikan, kuis, komedi, dan lain-lain.
Informasi yang diperoleh melalui siaran televisi dapat
mengendap dalam daya ingatan manusia lebih lama dibandingkan dengan perolehan
informasi yang sama tetapi melalui media lain. Alasannya karena informasi yang
diperoleh melibatkan dua indera yaitu pendengaran (audio) dan penglihatan
(visual) sekaligus secara stimultan pada saat yang bersamaan. Kemudian gambar
yang disajikan melalui siaran televisi merupakan pemindahan bentuk, warna, ornamen,
dan karakter yang sesungguhnya dari objek yang divisualisasikan (Muda, 2005).
Kini tayangan berita di televisi semakin banyak dan
berkembang sehingga menyebabkan pihak stasiun televisi berlomba-lomba untuk
menyajikan kemasan berita yang eksklusif dan istimewa agar diminati masyarakat.
Berita yang disajikan terdiri atas tiga jenis, yaitu: hard news, depth
news, dan feature news. Hard news adalah berita mengenai
hal-hal penting yang langsung terkait dengan kehidupan masyarakat dan harus
segera diketahui oleh masyarakat, seperti kasus kriminal.
Siaran berita kriminal di televisi
kerap kali menayangkan berita-berita yang mengandung unsur pornografis,
kekerasan, hedonisme, dan sebagainya yang ditampilkan di layar kaca. Berita
tersebut disaksikan oleh berbagai lapisan masyarakat, diantaranya adalah
anak-anak dan remaja. Mereka masih belum dapat memilih dan memilah mana
tayangan yang seharusnya patut dicontoh dan tidak. Tayangan berita yang
demikian dapat mempengaruhi perilaku anak-anak dan remaja yang notabene masih
berjiwa labil. Maka, orangtua dituntut untuk memiliki andil besar dalam
mengontrol perubahan yang terjadi pada anak-anak dan remaja. Berdasarkan latar
belakang ini, maka dilakukanlah penulisan makalah mengenai pengaruh berita di
televisi terhadap perilaku anak-anak dan remaja
1.2
Rumusan
Masalah
Berkembangnya tayangan berita di televisi menambah informasi
bagi masyarakat. Berita hadir karena permintaan pasar akan informasi tidak
pernah surut, namun tidak sedikit dari isi berita yang dengan atau tanpa
sengaja menyertakan unsur pornografis, kekerasan, dan hedonisme yang dapat
mempengaruhi emosi pemirsa sehingga banyak diminati oleh masyarakat.
Pengonsumsi berita tidak hanya kalangan orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan
para remaja. Anak-anak dan remaja merupakan bagian dari masyarakat yang pola
pikirnya masih labil dan emosional, oleh sebab itu mereka akan dengan mudah
terpengaruh pada tayangan berita di televisi.
Berdasarkan
uraian di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Bagaimana pengaruh yang timbul akibat adanya tayangan berita di televisi terhadap perilaku anak-anak?
- Bagaimana Solusi yang dilakukan orangtua untuk mencegah terjadinya perubahan perilaku menyimpang akibat adanya tayangan berita di televisi terhadap anak-anak?
1.3
Tujuan
1.
Mengetahui dampak negative dari
tayangan televise terhadap perilaku anak-anak
2.
Mengetahui solusi dari orang tua terhadap dampak negative dari televisi
bagi anak-anak
1.4 Metode
dan Prosedur
Metode
yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan mengumpulkan
informasi dari berbagai narasumber dan
browsing di internet.Serta alternatif pemecahan masalah yang digunakan ialah
pendekatan multidisipliner
1.5
Sistematika Penulisan
Makalah
ini disusun dengan menggunakan kaidah penulisan makalah secara umum yaitu :
KATA
PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang Masalah
1.2.
Rumusan Masalah
1.3.
Tujuan
1.4.
Metode dan Prosedur
1.5.
Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN
TEORITIS
2.1 Pengertian
dan sejarah Televisi
2.2 Pengaruh yang Timbul Akibat Adanya Tayangan Televisi Terhadap
Perilaku Anak-anak
2.3 Upaya yang Dilakukan Untuk Mencegah Dampak
Negative dari tayanagan Televisi
BAB III PEMECAHAN
MASALAH
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
4.2
Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1. Pengertian
dan sejarah Televisi
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang
berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele
(τῆλε, "jauh") dari bahasa Yunani dan visio ("penglihatan") dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat
komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.”
Penggunaan kata "Televisi"
sendiri juga dapat merujuk kepada "kotak televisi", "acara televisi", ataupun "transmisi televisi".
Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di
Indonesia 'televisi' secara tidak formal sering disebut dengan TV (dibaca: tivi,
teve ataupun tipi.)
Bermuladitemukannya
electrische telekop sebagai perwujudan gagasan seorang mahasiswadari Berlin
(Jerman Timur) yang bernama Paul Nipkov. Untuk mengirim gambar melalui udara
dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini terjadi antara tahun1883-1884.
Akhirnya Nipkov diakui sebagai bapak televisi.Akan tetapi televisi baru bisa
dinikmati oleh pihak publik ketika khalayakdapat menonton siaran rapat dewan
keamanan PBB digedung olah raga perguruantinggi Hunter, New York pada tahun
1946.Para wartawan dan undangan padasaat itu bukan hanya tertarik dengan
perdebatan yang ada akan tetapi juga tertarikdengan suatu alat baru yang
membuat mereka lebih jelas menyaksikan apa yangterjadi dalam persidangan
walaupun terhalang oleh dinding.Sejak saat itu televisi mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Mulaidari Amerika, Inggris dan di Indonesia televisi baru
ada pada tahun 1962.
Kotak televisi pertama kali dijual secara komersial sejak tahun 1920-an, dan sejak saat itu televisi telah menjadi barang biasa di rumah, kantor bisnis, maupun institusi, khususnya sebagai sumber kebutuhan akan hiburan dan berita serta menjadi media periklanan. Sejak 1970-an, kemunculan kaset video, cakram laser, DVD dan kini cakram Blu-ray, juga menjadikan kotak televisi sebagai alat untuk untuk melihat materi siaran serta hasil rekaman. Dalam tahun-tahun terakhir, siaran televisi telah dapat diakses melalui Internet, misalnya melalui iPlayer dan Hulu.
Sekelompok keluarga berkebangsaan Amerika sedang menonton
TV, 1958
Walaupun terdapat bentuk televisi lain
seperti televisi sirkuit
tertutup, namun jenis televisi yang paling sering digunakan
adalah televisi penyiaran, yang dibuat berdasarkan sistem
penyiaran radio yang dikembangkan sekitar tahun 1920-an, menggunakan
pemancar frekuensi radio berkekuatan tinggi untuk memancarkan gelombang
televisi ke penerima gelombang televisi.
Penyiaran TV biasanya disebarkan
melalui gelombang radio VHF dan UHF dalam jalur frekuensi yang ditetapkan antara 54-890 megahertz[1]. Kini gelombang TV juga sudah memancarkan jenis suara stereo ataupun bunyi keliling di banyak negara. Hingga tahun
2000, siaran TV dipancarkan dalam bentuk gelombang analog, tetapi belakangan ini perusahaan siaran publik maupun
swasta kini beralih ke teknologi penyiaran digital.
Sebuah kotak televisi terdiri dari
bermacam-macam sirkuit elektronik didalamnya,
termasuk di antaranya sirkuit penerima dan penangkap gelombang penyiaran.
Perangkat tampilan visual yang tidak memiliki perangkat penerima sinyal
biasanya disebut sebagai monitor, bukannya
televisi. Sebuah sistem televisi dapat dipakai dalam berbagai penggunaan
teknologi seperti analog (PAL, NTSC, SECAM), digital (DVB, ATSC, ISDB dsb.) ataupun definisi tinggi (HDTV). Sistem
televisi kini juga digunakan untuk pengamatan suatu peristiwa, pengontrolan
proses industri, dan pengarahan senjata, terutama untuk tempat-tempat yang
biasanya terlalu berbahaya untuk diobservasi secara langsung.
Televisi amatir (ham TV atau ATV) digunakan untuk kegiatan
percobaan dan hiburan publik yang dijalankan oleh operator radio amatir. Stasiun TV amatir telah digunakan pada kawasan
perkotaan sebelum kemunculan stasiun TV komersial.[2]
Televisi telah memainkan peran penting
dalam sosialisasi abad 20 dan 21. Pada tahun 2010, iPlayer digunakan dalam aspek media sosial dalam bentuk layanan televisi internet, termasuk di antaranya adalah Facebook dan Twitter.[3]
2.2 Pengaruh
yang Timbul Akibat Tayangan Televisi Terhadap Perilaku Anak-anak
Televisi adalah salah satu bentuk teknologi yang dapat
memberikan solusi untuk memenuhi tuntutan zaman sekarang. Dibandingkan dengan
pendahulunya yaitu surat kabar dan radio, televisi memiliki beberapa kelebihan.
Televisi dapat menguasai ruang dan jarak, mencapai sasaran yang sangat luas, memiliki
nilai aktualitas terhadap suatu pemberitaan dan informasi yang sangat cepat,
serta bersifat audiovisual sehingga meningkatkan daya rangsang dan pemahaman
seseorang terhadap informasi yang disajikan (Kuswandi, 1998).
Salah satu program televisi yang tetap menjadi program utama
di sebuah stasiun televisi adalah berita. Berita televisi yang merupakan
perkembangan dari teknologi modern, merujuk pada praktek penyebaran informasi
mengenai peristiwa terbaru melalui media televisi. Acara berita bisa berlangsung
dari beberapa detik hingga beberapa jam dengan menyajikan perkembangan terbaru
peristiwa-peristiwa lokal/regional maupun internasional. Stasiun televisi
biasanya menyajikan program berita sebagai bagian dari acara berkalanya, dan
disiarkan setiap hari pada waktu-waktu tertentu. Kadang-kadang acara televisi
juga bisa diselipi dengan ‘berita sekilas’ untuk memberikan laporan mutakhir
mengenai suatu peristiwa yang sedang terjadi atau berita dadakan lain yang
penting.
Dunia teknologi yang semakin canggih bagaikan koin yang
memiliki dua sisi berlawanan. Selain dapat menimbulkan dampak positif seperti
memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi, juga dapat membawa suatu dampak
negatif yang cukup meluas di berbagai lapisan masyarakat. Lapisan masyarakat yang
paling mudah terbius dan terpengaruh dengan apa yang dilihatnya adalah
anak-anak dan remaja. Marwan (2008) menyatakan bahwa: “Usia anak-anak dan
remaja merupakan masa labil seseorang. Dimana pada saat itu timbul rasa ingin
menunjukkan diri “ini aku”. Oleh karena itu sikap meniru pada kalangan remaja
merupakan suatu bentuk dari masa pubertas yang dialami oleh keadaan jiwa yang
masih labil”. Artinya jika mereka tidak dapat mengontrol diri dengan baik dan
apabila waktu luang tidak dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, maka
perbuatan iseng dan kenakalan lainnya mudah
sekali
terjadi.
sekali
terjadi.
Televisi
ternyata memberikan dampak yang luar biasa bagi anak-anak. Menurut catatan KPID
Jawa Timur, anak Indonesia rata-rata menonton televisi selama 30-35 jam dalam
sepekan. Benar-benar waktu yang lebih lama dari waktu belajarnya di sekolah.
Dengan waktu menonton yang cukup lama tersebut, membuat anak lebih mudah
terobsesi dengan apa yang dilihatnya di televisi.
Tidak
semua orang tua menyadari dampak buruk televisi. Bagi yang tidak sadar,
cenderung melakukan pembiaran bagi anak-anaknya untuk melihat tontonan yang ada
di televisi, sepanjang anak tersebut masih ada di dalam rumah dan masih bisa
diawasi oleh orang tua. Entah program yang dilihat tersebut memang cocok untuk
anak-anak atau tidak. Karena meskipun yang dilihat anak adalah film kartun tapi
di dalamnya masih memuat kekerasan, atau perkelahian. Apalagi yang ditonton
tidak hanya film kartun saja tetapi film-film atau sinetron-sinetron yang di
dalamnya mengandung intrik-intrik, konspirasi atau hanya mengumbar mimpi-mimpi
indah. Dan menurut hasil survei yang dilakukan oleh para ahli, seringkali
anak-anak yang mempunyai perilaku nakal, suka mengganggu anak lainnya, berlaku
kasar adalah anak-anak yang paling banyak menonton hiburan kekerasan.
Tetapi
bagi orang tua yang sadar benar dengan perkembangan anaknya akan memperhatikan
secara sungguh-sungguh apa yang sedang ditonton anak-anak mereka, apakah
tontonan tersebut memang cocok untuk perkembangan psikologi anaknya atau tidak.
Dampak
lainnya nyaitu :
·
Berpengaruh
Terhadap Perkembangan Otak
Terhadap perkembangan otak anak usia
0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan
membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam
mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan
dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan
khayalan.
·
Mendorong
Anak Menjadi Konsumtif
Anak-anak merupakan target pengiklan
yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif
·
Berpengaruh
Terhadap Sikap
Anak yang banyak menonton TV namun
belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa
yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam
kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal
ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa.
·
Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi simpel, memikat, dan
membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar
·
Membentuk pola pikir sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak
pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang
kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi,
intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya
·
Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya
sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke
iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak.
·
Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi
kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan
sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote
control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir
pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka
seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari
aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.
·
Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.
Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.
·
Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV
lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga
biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV
sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ’berbagi cerita’
antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, kita
menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di TV. Rata-rata, TV
dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah
terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan
rumah yang berbeda.
·
Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan
dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau
tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus
dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau
matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa
ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba
melakukan apa yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat
sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis
semakin ketat antar Media, sehingga mereka sering mengabaikan tanggung jawab
sosial,moral & etika.
2.3 Upaya yang Dilakukan Untuk
Mencegah Dampak Negative dari tayanagan Televisi
Manusia memanfaatkan televisi sebagai alat bantu yang paling
efektif dan efisien. Informasi yang diinginkan oleh banyak orang hampir
semuanya dapat diperoleh dari berbagai program dan tayangan berita di televisi
yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan material. Kegiatan menonton
berita di televisi sering tidak terencana dan bersifat tidak sadar. Apabila
orangtua dari si anak dan remaja sedang menonton berita, mereka juga turut
serta menontonnya. Televisi dapat dengan mudah melahap sebagian besar waktu
sang anak yaitu waktu untuk belajar, membaca, menggambar atau membantu
pekerjaan rumah tangga.
Apabila berita di televisi menyajikan tayangan yang
bernuansa kekerasan, maka anak-anak dan remaja cenderung menyukai dan
menggemari tayangan tersebut karena mereka beranggapan bahwa anak yang kuat
akan disegani oleh teman-temannya. Apa yang dilihat pada tayangan televisi itu
biasanya akan ditiru mentah-mentah tanpa bersikap selektif dalam memilih
tayangan yang disajikan. Akibatnya, timbul kekhawatiran akan pengaruh tayangan
berita di televisi terhadap perilaku anak-anak dan remaja.
Dari berbagai kemungkinan masalah yang bisa timbul, tentu
peran orang tua tidak bisa diabaikan, disiplin dan pengawasan orang tua mutlak
diperlukan. Sikap orang tua terhadap televisi akan mempengaruhi perilaku anak.
Maka sebaiknya orang tua lebih mengutamakan anak daripada aktivitasnya. Orang
tua yang terlalu asik dengan kesibukannya untuk mencari nafkah akan berpengaruh
terhadap kebiasaan sang anak yang tidak teratur. Anak atau remaja yang sering
diabaikan oleh orangtuanya seringkali memiliki persepsi berbeda terhadap apa
yang mereka lihat di televisi.
Di kala orang tua sudah selesai dengan segala aktivitasnya,
mereka biasanya menonton televisi. Menonton bersama anak merupakan kebahagiaan
tersendiri bagi orang tua. Namun secara tidak sadar orang tua terkadang lalai
dalam memilih tayangan mana yang sebaiknya disaksikan oleh anak mereka.
sebaiknya orang tua menentukan batasan bagi anak-anaknya setelah membatasi
dirinya terlebih dahulu untuk menonton televisi. Kemudian mengikutsertakan anak
dalam membuat batasan menonton juga menjadi cara efektif agar anak menjadikan
kegiatan menonton televisi hanya sebagai pilihan bukan sebagai kebiasaan.
Orang tua harus bisa mengontrol anaknya dengan cara
mengawasi sang anak pada saat menyaksikan program televisi, termasuk berita.
Ketika tayangan berita tersebut mengandung unsur pornografis, kekerasan, dan
hedonisme, maka orang tua harus dapat memberikan penjelasan hal mana saja yang
patut dicontoh dan tidak. Untuk meminimalisir perubahan perilaku menyimpang
pada anak mereka akibat adanya tayangan tersebut, orang tua sebaiknya
mengusahakan agar televisi hanya sebagian kecil dari keseimbangan hidup anak.
Utamakan waktu untuk bermain bersama teman-temannya, untuk membaca cerita dan
istirahat, berjalan-jalan dan menikmati makan bersama keluarga. Umumnya anak
dan remaja senang belajar dengan melakukan berbagai hal, baik sendiri maupun
besama orang tuanya.
BAB III
PEMECAHAN MASALAH
Berdasarkan
ekperimen yang dilakukan oleh Bandura, dapat dilihat bahwa bahwa anak-anak
mudah sekali melakukan modelling. Oleh karena itu, tayangan TV yang tidak
sesuai bagi anak dapat membentuk dan meningkatkan perilaku agresif mereka.
Untuk mencegah dampak negatif
tayangan televisi, berikut beberapa cara yang dapat di lakukan:
·
Usahakan untuk mendampingi anak anda ketika
menonton dan diskusikan tayangan tersebut bersama. Dengan cara ini, anak anda
tidak hanya sekedar menonton tetapi mereka juga dapat memetik pelajaran
(insight) dari tayangan yg mereka tonton.
·
Buatlah jadwal menonton TV dan daftar film apa
saja yang boleh ditonton anak anda. Di luar jadwal tersebut, anda bisa
mengisinya dengan “quality time” bersama anak anda, misalnya membantu
mengerjakan PR, mengajari mereka memasak, berolahraga bersama, dan lain-lain.
·
Maraknya tayangan yang tidak bermutu seperti
sinetron dan reality show yang direkayasa dapat disiasati dengan berlangganan
TV kabel. Banyak tayangan TV kabel yang bermutu bagi anak seperti Discovery
Channel for Kids atau National Geographic. Satu lagi keuntungan TV kabel adalah
anda dapat memproteksi saluran-saluran tertentu sehingga tidak dapat ditonton
anak anda.
·
Dalam menonton film di televisi, selalu lihat
rating film tersebut. Di Indonesia, biasanya rating tayangan TV dibagi menjadi
SU (semua umur), BO (Bimbingan Orangtua), dan D (Dewasa). Untuk film-film
Amerika, ratingnya dikeluarkan oleh MPAA (Motion Picture Association of
America). Rating ini bisa anda temukan di DVD yang biasa anda beli untuk
mengetahui apakah film-film tersebut layak dikonsumsi oleh anak-anak. Rating G
(General Audience) untuk semua umur, PG (Parental Guidance Suggested) untuk
semua umur tapi sebaiknya dengan bimbingan orangtua, PG-13 (Parents Strongly
Cautioned) beberapa materi tidak sesuai untuk anak di bawah 13 tahun, R
(Restricted) untuk mereka yang berusia 17 tahun ke atas, dan NC-17 (No One 17
and Under Admitted) untuk orang dewasa (dulu rating NC-17 menggunakan rating X
atau semi porno).
·
Terakhir tapi tidak kalah penting,
bekerjasamalah dengan seluruh penghuni rumah anda (termasuk pembantu anda)
untuk mengatur tayangan televisi di rumah anda karena inkonsistensi dapat
membuat anak anda bingung. Segeralah mengganti saluran atau matikan televisi
jika ada adegan yang tidak sesuai bagi anak anda.
·
Batasi
jam menonton anak, walaupun sulit dan mungkin ada perlawanan dari anak sendiri,
tetapi dengan memberikan pengertian kepadanya diharapkan anak akan sedikit
merubah kebiasaan menonton televisi.
- Dampingi anak ketika menonton televisi. Berikan pengertian seputar apa yang sedang ditontonnya. Bila ada muatan kekerasan didalamnya, beri pengertian bahwa hal tersebut tidak baik
- Agar anak dapat mengalihkan konsentrasinya pada kebiasaan menonton televisi, lebih baik jika Anda berikan buku-buku bacaan atau Anda bisa mengajak untuk melakukan kegiatan di luar rumah tentunya dengan pengawasan Anda.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Berdasarkan kajian yang telah diuraikan di atas dapat
disimpulkan bahwa pengaruh yang timbul akibat adanya tayangan berita di
televisi terhadap perilaku anak-anak dapat berupa pengaruh negatif. Siaran
berita di televisi berpengaruh terhadap anak-anak karena kemampuan menciptakan
kesan dan persepsi bahwa suatu muatan dalam layar kaca menjadi lebih nyata dari
realitasnya sehingga mereka ingin mencoba apa yang mereka lihat di televisi itu
agar dapat disebut sebagai anak gaul di lingkungannya. Oleh sebab itu peran
orang tua tidak bisa diabaikan, disiplin dan pengawasan orang tua mutlak
diperlukan. Sikap orang tua terhadap televisi akan mempengaruhi perilaku anak
mereka. Apabila orang tua mereka mengajarkan dan membimbing ke arah yang baik,
maka anak atau remaja tersebut tidak akan terjerumus ke hal-hal yang tidak
baik, dan begitupun sebaliknya.
4.2 Saran
- Pilihlah tayangan berita di televisi yang tidak mengandung unsur pornografis, kekerasan dan hedonisme.
- Tentukan dan bedakan waktu menonton televisi bagi anak-anak, remaja, dan yang sudah dewasa.
- Usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak.
- Alihkan perhatian dan kegemaran anak serta remaja dalam keluarga dari kecanduan menyaksikan acara televisi yang ditayangkan setiap hari kepada bentuk-bentuk kegiatan dan kesenangan baru yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Marwan. 2008. Dampak Siaran Televisi
Terhadap Kenakalan Remaja. [Terhubung Berkala] http://dutamasyar


No comments:
Post a Comment