JAKARTA - PT Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk (ULTJ), emiten produsen minuman ultra high temperature
(UHT), susu, dan konsentrat buah, membukukan penjualan sebesar Rp 640,8
miliar di kuartal I 2012, meningkat 31,6% dari periode yang sama tahun
lalu Rp 486,8 miliar, menurut laporan keuangan perseroan. Kenaikan
penjualan didorong peningkatan produksi lebih dari 20% yang menambah
pasokan produk ke pasar.
Pahala Sitohang, Finance Manager Ultrajaya, mengatakan
penjualan terbesar masih berasal dari minuman UHT dan susu. "Kami sudah
mensuplai lebih banyak produk sejak Januari 2012 sehingga penjualan
tumbuh dan kondisinya lebih baik dari 2011," kata dia kepada IFT.
Peningkatan penjualan Ultrajaya di kuartal I 2012
ditopang pertumbuhan penjualan di pasar domestik sebesar 32,4% menjadi
Rp 699,8 miliar. Sementara penjualan perseroan di pasar ekspor turun
42,2% menjadi Rp 4,5 miliar. Pahala menjelaskan penurunan penjualan
ekspor karena perseroan memang lebih fokus pada penjualan domestik.
Dia menjelaskan salah satu strategi perseroan mendorong
pertumbuhan penjualan antara lain meningkatkan pasokan ke pasar modern.
Perseroan sebelumnya hanya memasok sekitar 40%-60% dari permintaan di
pasar modern, dan saat ini hampir sepenuhnya dapat terpenuhi. Penjualan
terbesar Ultrajaya di kuartal I 2012 ditujukan kepada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) senilai Rp 33,3 miliar, turun 13,7% dari kuartal I 2011 sebesar Rp 38,6 miliar.
Strategi lain menaikkan penjualan melalui peningkatan iklan. Perseroan berupaya menjaga brand awareness
produk yang sudah eksis di pasar. "Kami di kuartal I ini belum
mengeluarkan produk baru tapi menjaga penjualan dengan produk yang sudah
ada," katanya.
Ultrajaya membagi pendapatan menjadi dua segmen yakni
minuman dan makanan. Segmen minuman, yang berkontribusi 95% terhadap
penjualan konsolidasi, mencatatkan peningkatan penjualan sebesar 33%
menjadi Rp 609 miliar di kuartal I 2012. Segmen makanan, yang
berkontribusi sekitar 5% terhadap penjualan konsolidasi, membukukan
pertumbuhan penjualan sebesar 27% menjadi Rp 43,4 miliar.
Perseroan menaikkan harga jual sebesar 3% di kuartal I
2012 dibandingkan periode yang sama 2011. Pahala menilai langkah
perseroan menaikkan harga jual tidak akan mempengaruhi penjualan.
Kenaikan harga merupakan langkah penyesuaian peningkatan biaya produksi
seperti bahan baku, upah pekerja, biaya distribusi, dan fluktuasi nilai
rupiah. "Inti kenaikan penjualan adalah demand yang masih tinggi," ujar dia.
Menurut Departemen Riset IFT, kenaikan biaya bahan baku
susu Ultrajaya yang masih impor membuat beban produksi perusahaan
meningkat signifikan hingga 32% menjadi Rp 438 miliar di kuartal I 2012.
Di samping itu, beban pabrikasi (overhead) yang meningkat ikut mendorong naiknya biaya produksi Ultrajaya.
Namun peningkatan beban tersebut dapat diteruskan dengan
baik oleh Ultrajaya kepada harga jual. Pada kuartal I 2012 perusahaan
telah menaikkan harga jual produk sebesar 3%. Kenaikan harga jual yang
disertai peningkatan volume penjualan mendorong laba kotor perusahaan
tumbuh seiring naiknya penjualan. Perusahaan juga mengamankan margin
kotor di level 32%.
Beban usaha Ultrajaya meningkat hingga 22% yang didorong
oleh naiknya biaya promosi dan iklan serta biaya transportasi. Biaya
promosi dan iklan naik hingga 60% menjadi Rp 48 miliar. Sementara biaya
transportasi naik 35% menjadi Rp 27 miliar. Laba usaha perusahaan naik
45% menjadi Rp 94 miliar. Margin usaha Ultrajaya naik 131 basis poin
menjadi 15%. Namun kenaikan beban lain-lain yang signifikan membuat
margin bersih Ultrajaya tertekan menjadi 11% dari sebelumnya 12%.
Walaupun margin bersih tertekan, perusahaan tetap mencatatkan
pertumbuhan laba bersih sebesar 27% menjadi Rp 71 miliar di kuartal I
2012.
Harga saham Ultrajaya pada penutupan perdagangan Selasa naik 30 poin (2,5%) menjadi Rp 1.220 dibanding sehari sebelumnya.(*)
(
Sumber: http://www.indonesiafinancetoday.com)

No comments:
Post a Comment