DAMPAK NEGATIF DARI TAYANGAN TELEVISI TERHADAP ANAK-ANAK
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata Kuliah
Pendidikan Lingkungan, Sosial, Budaya dan
Teknologi.
Nama : Ika
Rikatriana
Nim : 0901424
Kelas : B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya,
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun sebagai tugas dari mata kuliah Pendidikan
Lingkungan, Sosial, Budaya,dan Teknologi. Selain itu, makalah ini juga penulis susun
untuk menambah pengetahuan penulis khususnya tentang bagaimana dampak negative
dari tayangan Televisi khususnya bagi anak-anak dan cara penanggulangannya.
Penulis menyadari bahwa dalam membuat makalah ini terdapat
banyak kesulitan. Oleh karena itu, pada kesempatan
ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Allah
SWT yang telah memberikan
rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
2. Ibu
Dra.Hj Siti Komariah ,M.Si selaku dosen PLSBT yang telah memberikan ilmunya
dan member masukan dalam menyusun
makalah ini.
3. Bapak
dan Ibu tercinta yang selalu memberikan yang terbaik untuk penulis
4. Serta
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Akhir kata penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca
yang budiman.
Bandung,
6 November 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang Masalah............................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan....................................................................................................................................... 2
1.4 Metode dan Prosedur................................................................................................................ 3
1.5 Sistematika Penulisan................................................................................................................ 3
BAB II TINJAUAN TEORITIS................................................................................................. 4
2.1 Pengertian
dan sejarah Televisi………………………………………………………...………4
2.2 Pengaruh yang Timbul Akibat
Tayangan Televisi Terhadap Perilaku Anak-anak.......................... 6
2.3 Upaya yang
Dilakukan Untuk Mencegah Dampak Negative dari tayanagan Televisi….......……10
BAB III PEMECAHAN MASALAH...................................................................................... .12
BAB IV PENUTUP................................................................................................................... .14
4.1 Kesimpulan............................................................................................................................ .14
4.2 Saran.......................................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................. .15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Komunikasi merupakan kebutuhan dasar
manusia. Dalam proses komunikasi terdapat pertukaran informasi. Media massa
yang dianggap paling mempengaruhi khalayaknya dalam hal penyampaian informasi
adalah televisi. Kehadiran televisi dalam kehidupan manusia memunculkan suatu
peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan penyebaran informasi yang
bersifat massal dan menghasilkan suatu efek sosial yang berpengaruh terhadap
nilai-nilai sosial dan budaya manusia.
Program siaran televisi di Indonesia
pada umumnya diproduksi oleh stasiun televisi yang bersangkutan. Stasiun
televisi dapat memilih program yang menarik dan memiliki nilai jual kepada
pemasang iklan, sementara perusahaan produksi acara televisi dapat meraih
keuntungan dari produksinya. Pada umumnya isi program siaran di televisi
meliputi acara seperti berita, dialog interaktif, program pedesaan, periklanan,
kesenian dan budaya, film, sinetron, pendidikan, kuis, komedi, dan lain-lain.
Informasi yang diperoleh melalui
siaran televisi dapat mengendap dalam daya ingatan manusia lebih lama
dibandingkan dengan perolehan informasi yang sama tetapi melalui media lain.
Alasannya karena informasi yang diperoleh melibatkan dua indera yaitu
pendengaran (audio) dan penglihatan (visual) sekaligus secara stimultan pada
saat yang bersamaan. Kemudian gambar yang disajikan melalui siaran televisi
merupakan pemindahan bentuk, warna, ornamen, dan karakter yang sesungguhnya
dari objek yang divisualisasikan (Muda, 2005).
Kini tayangan berita di televisi
semakin banyak dan berkembang sehingga menyebabkan pihak stasiun televisi
berlomba-lomba untuk menyajikan kemasan berita yang eksklusif dan istimewa agar
diminati masyarakat. Berita yang disajikan terdiri atas tiga jenis, yaitu: hard
news, depth news, dan feature news. Hard news adalah
berita mengenai hal-hal penting yang langsung terkait dengan kehidupan
masyarakat dan harus segera diketahui oleh masyarakat, seperti kasus kriminal.
Siaran
berita kriminal di televisi kerap kali menayangkan berita-berita yang
mengandung unsur pornografis, kekerasan, hedonisme, dan sebagainya yang
ditampilkan di layar kaca. Berita tersebut disaksikan oleh berbagai lapisan
masyarakat, diantaranya adalah anak-anak dan remaja. Mereka masih belum dapat
memilih dan memilah mana tayangan yang seharusnya patut dicontoh dan tidak.
Tayangan berita yang demikian dapat mempengaruhi perilaku anak-anak dan remaja
yang notabene masih berjiwa labil. Maka, orangtua dituntut untuk memiliki andil
besar dalam mengontrol perubahan yang terjadi pada anak-anak dan remaja.
Berdasarkan latar belakang ini, maka dilakukanlah penulisan makalah mengenai
pengaruh berita di televisi terhadap perilaku anak-anak dan remaja
1.2 Rumusan Masalah
Berkembangnya tayangan berita di
televisi menambah informasi bagi masyarakat. Berita hadir karena permintaan
pasar akan informasi tidak pernah surut, namun tidak sedikit dari isi berita
yang dengan atau tanpa sengaja menyertakan unsur pornografis, kekerasan, dan
hedonisme yang dapat mempengaruhi emosi pemirsa sehingga banyak diminati oleh
masyarakat. Pengonsumsi berita tidak hanya kalangan orang dewasa, tetapi juga
anak-anak dan para remaja. Anak-anak dan remaja merupakan bagian dari
masyarakat yang pola pikirnya masih labil dan emosional, oleh sebab itu mereka
akan dengan mudah terpengaruh pada tayangan berita di televisi.
Berdasarkan
uraian di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Bagaimana pengaruh yang timbul akibat adanya tayangan berita di televisi terhadap perilaku anak-anak?
- Bagaimana Solusi yang dilakukan orangtua untuk mencegah terjadinya perubahan perilaku menyimpang akibat adanya tayangan berita di televisi terhadap anak-anak?
1.3 Tujuan
1.
Mengetahui dampak negative dari
tayangan televise terhadap perilaku anak-anak
2.
Mengetahui solusi dari orang tua terhadap dampak negative dari televisi
bagi anak-anak
1.4
Metode dan Prosedur
Metode
yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan mengumpulkan
informasi dari berbagai narasumber dan
browsing di internet.Serta alternatif pemecahan masalah yang digunakan ialah
pendekatan multidisipliner
1.5
Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun dengan menggunakan kaidah penulisan
makalah secara umum yaitu :
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Masalah
1.2.
Rumusan Masalah
1.3.
Tujuan
1.4.
Metode dan Prosedur
1.5.
Sistematika Penulisan
BAB
II TINJAUAN TEORITIS
2.1
Pengertian dan sejarah Televisi
2.2 Pengaruh yang Timbul Akibat Adanya Tayangan
Televisi Terhadap Perilaku Anak-anak
2.3
Upaya yang Dilakukan Untuk Mencegah
Dampak Negative dari tayanagan Televisi
BAB
III PEMECAHAN MASALAH
BAB
IV PENUTUP
4.1
Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1.
Pengertian dan sejarah Televisi
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang
berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele
(τῆλε, "jauh") dari bahasa Yunani dan visio ("penglihatan") dari bahasa Latin, sehingga
televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan
media visual/penglihatan.”
Penggunaan kata "Televisi" sendiri juga dapat
merujuk kepada "kotak televisi", "acara televisi", ataupun "transmisi televisi".
Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di
Indonesia 'televisi' secara tidak formal sering disebut dengan TV (dibaca: tivi,
teve ataupun tipi.)
Bermuladitemukannya
electrische telekop sebagai perwujudan gagasan seorang mahasiswadari Berlin
(Jerman Timur) yang bernama Paul Nipkov. Untuk mengirim gambar melalui udara
dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini terjadi antara tahun1883-1884.
Akhirnya Nipkov diakui sebagai bapak televisi.Akan tetapi televisi baru bisa
dinikmati oleh pihak publik ketika khalayakdapat menonton siaran rapat dewan
keamanan PBB digedung olah raga perguruantinggi Hunter, New York pada tahun
1946.Para wartawan dan undangan padasaat itu bukan hanya tertarik dengan
perdebatan yang ada akan tetapi juga tertarikdengan suatu alat baru yang
membuat mereka lebih jelas menyaksikan apa yangterjadi dalam persidangan
walaupun terhalang oleh dinding.Sejak saat itu televisi mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Mulaidari Amerika, Inggris dan di Indonesia televisi baru
ada pada tahun 1962.
Kotak televisi pertama kali dijual secara komersial sejak tahun 1920-an, dan sejak saat itu televisi telah menjadi barang biasa di rumah, kantor bisnis, maupun institusi, khususnya sebagai sumber kebutuhan akan hiburan dan berita serta menjadi media periklanan. Sejak 1970-an, kemunculan kaset video, cakram laser, DVD dan kini cakram Blu-ray, juga menjadikan kotak televisi sebagai alat untuk untuk melihat materi siaran serta hasil rekaman. Dalam tahun-tahun terakhir, siaran televisi telah dapat diakses melalui Internet, misalnya melalui iPlayer dan Hulu.
Sekelompok keluarga berkebangsaan Amerika sedang menonton
TV, 1958
Walaupun terdapat bentuk televisi lain seperti televisi sirkuit
tertutup, namun jenis televisi yang paling sering digunakan
adalah televisi penyiaran, yang dibuat berdasarkan sistem penyiaran radio yang dikembangkan sekitar tahun 1920-an, menggunakan
pemancar frekuensi radio berkekuatan tinggi untuk memancarkan gelombang
televisi ke penerima gelombang televisi.
Penyiaran TV biasanya disebarkan melalui gelombang radio VHF dan UHF dalam jalur frekuensi yang ditetapkan antara 54-890 megahertz[1]. Kini gelombang TV juga sudah memancarkan jenis suara stereo ataupun bunyi keliling di banyak negara. Hingga tahun
2000, siaran TV dipancarkan dalam bentuk gelombang analog, tetapi belakangan ini perusahaan siaran publik maupun
swasta kini beralih ke teknologi penyiaran digital.
Sebuah kotak televisi terdiri dari bermacam-macam sirkuit elektronik didalamnya,
termasuk di antaranya sirkuit penerima dan penangkap gelombang penyiaran.
Perangkat tampilan visual yang tidak memiliki perangkat penerima sinyal
biasanya disebut sebagai monitor, bukannya televisi. Sebuah sistem televisi dapat dipakai
dalam berbagai penggunaan teknologi seperti analog (PAL, NTSC, SECAM), digital (DVB, ATSC, ISDB dsb.) ataupun definisi tinggi (HDTV). Sistem
televisi kini juga digunakan untuk pengamatan suatu peristiwa, pengontrolan
proses industri, dan pengarahan senjata, terutama untuk tempat-tempat yang
biasanya terlalu berbahaya untuk diobservasi secara langsung.
Televisi amatir (ham TV atau ATV) digunakan untuk kegiatan
percobaan dan hiburan publik yang dijalankan oleh operator radio amatir. Stasiun TV
amatir telah digunakan pada kawasan perkotaan sebelum kemunculan stasiun TV
komersial.[2]
Televisi telah memainkan peran penting dalam sosialisasi
abad 20 dan 21. Pada tahun 2010, iPlayer digunakan dalam aspek media sosial dalam bentuk layanan televisi internet, termasuk di antaranya adalah Facebook dan Twitter.[3]
2.2
Pengaruh yang Timbul Akibat Tayangan Televisi Terhadap Perilaku Anak-anak
Televisi adalah salah satu bentuk teknologi
yang dapat memberikan solusi untuk memenuhi tuntutan zaman sekarang.
Dibandingkan dengan pendahulunya yaitu surat kabar dan radio, televisi memiliki
beberapa kelebihan. Televisi dapat menguasai ruang dan jarak, mencapai sasaran
yang sangat luas, memiliki nilai aktualitas terhadap suatu pemberitaan dan
informasi yang sangat cepat, serta bersifat audiovisual sehingga meningkatkan
daya rangsang dan pemahaman seseorang terhadap informasi yang disajikan
(Kuswandi, 1998).
Salah satu program televisi yang
tetap menjadi program utama di sebuah stasiun televisi adalah berita. Berita
televisi yang merupakan perkembangan dari teknologi modern, merujuk pada
praktek penyebaran informasi mengenai peristiwa terbaru melalui media televisi.
Acara berita bisa berlangsung dari beberapa detik hingga beberapa jam dengan
menyajikan perkembangan terbaru peristiwa-peristiwa lokal/regional maupun
internasional. Stasiun televisi biasanya menyajikan program berita sebagai
bagian dari acara berkalanya, dan disiarkan setiap hari pada waktu-waktu
tertentu. Kadang-kadang acara televisi juga bisa diselipi dengan ‘berita
sekilas’ untuk memberikan laporan mutakhir mengenai suatu peristiwa yang sedang
terjadi atau berita dadakan lain yang penting.
Dunia teknologi yang semakin canggih
bagaikan koin yang memiliki dua sisi berlawanan. Selain dapat menimbulkan
dampak positif seperti memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi, juga
dapat membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas di berbagai lapisan
masyarakat. Lapisan masyarakat yang paling mudah terbius dan terpengaruh dengan
apa yang dilihatnya adalah anak-anak dan remaja. Marwan (2008) menyatakan
bahwa: “Usia anak-anak dan remaja merupakan masa labil seseorang. Dimana pada
saat itu timbul rasa ingin menunjukkan diri “ini aku”. Oleh karena itu sikap
meniru pada kalangan remaja merupakan suatu bentuk dari masa pubertas yang
dialami oleh keadaan jiwa yang masih labil”. Artinya jika mereka tidak dapat
mengontrol diri dengan baik dan apabila waktu luang tidak dapat dimanfaatkan
dengan sebaik mungkin, maka perbuatan iseng dan kenakalan lainnya mudah sekali terjadi.
Televisi ternyata memberikan dampak yang luar biasa bagi
anak-anak. Menurut catatan KPID Jawa Timur, anak Indonesia rata-rata menonton
televisi selama 30-35 jam dalam sepekan. Benar-benar waktu yang lebih lama dari
waktu belajarnya di sekolah. Dengan waktu menonton yang cukup lama tersebut,
membuat anak lebih mudah terobsesi dengan apa yang dilihatnya di televisi.
Tidak
semua orang tua menyadari dampak buruk televisi. Bagi yang tidak sadar,
cenderung melakukan pembiaran bagi anak-anaknya untuk melihat tontonan yang ada
di televisi, sepanjang anak tersebut masih ada di dalam rumah dan masih bisa
diawasi oleh orang tua. Entah program yang dilihat tersebut memang cocok untuk
anak-anak atau tidak. Karena meskipun yang dilihat anak adalah film kartun tapi
di dalamnya masih memuat kekerasan, atau perkelahian. Apalagi yang ditonton
tidak hanya film kartun saja tetapi film-film atau sinetron-sinetron yang di
dalamnya mengandung intrik-intrik, konspirasi atau hanya mengumbar mimpi-mimpi
indah. Dan menurut hasil survei yang dilakukan oleh para ahli, seringkali
anak-anak yang mempunyai perilaku nakal, suka mengganggu anak lainnya, berlaku
kasar adalah anak-anak yang paling banyak menonton hiburan kekerasan.
Tetapi bagi orang tua yang sadar benar dengan perkembangan
anaknya akan memperhatikan secara sungguh-sungguh apa yang sedang ditonton
anak-anak mereka, apakah tontonan tersebut memang cocok untuk perkembangan
psikologi anaknya atau tidak.
Dampak lainnya nyaitu :
·
Berpengaruh Terhadap Perkembangan Otak
Terhadap perkembangan otak anak usia
0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan
membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam
mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan
dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan
khayalan.
·
Mendorong Anak Menjadi Konsumtif
Anak-anak merupakan target pengiklan
yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif
·
Berpengaruh Terhadap Sikap
Anak yang banyak menonton TV namun
belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa
yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam
kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal
ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa.
·
Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi simpel, memikat, dan
membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar
·
Membentuk pola pikir sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak
pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang
kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi,
intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya
·
Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya
sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke
iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak.
·
Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi
kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan
sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote
control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir
pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka
seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari
aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.
·
Meningkatkan kemungkinan obesitas
(kegemukan)
Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.
Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.
·
Merenggangkan hubungan antar anggota
keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV
lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga
biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV
sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ’berbagi cerita’
antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, kita
menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di TV. Rata-rata, TV
dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah
terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan
rumah yang berbeda.
·
Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan
dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau
tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus
dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau
matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa
ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba
melakukan apa yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat
sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis
semakin ketat antar Media, sehingga mereka sering mengabaikan tanggung jawab
sosial,moral & etika.
2.3 Upaya
yang Dilakukan Untuk Mencegah Dampak Negative dari tayanagan Televisi
Manusia memanfaatkan televisi
sebagai alat bantu yang paling efektif dan efisien. Informasi yang diinginkan
oleh banyak orang hampir semuanya dapat diperoleh dari berbagai program dan
tayangan berita di televisi yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan
material. Kegiatan menonton berita di televisi sering tidak terencana dan
bersifat tidak sadar. Apabila orangtua dari si anak dan remaja sedang menonton
berita, mereka juga turut serta menontonnya. Televisi dapat dengan mudah
melahap sebagian besar waktu sang anak yaitu waktu untuk belajar, membaca,
menggambar atau membantu pekerjaan rumah tangga.
Apabila berita di televisi
menyajikan tayangan yang bernuansa kekerasan, maka anak-anak dan remaja
cenderung menyukai dan menggemari tayangan tersebut karena mereka beranggapan
bahwa anak yang kuat akan disegani oleh teman-temannya. Apa yang dilihat pada
tayangan televisi itu biasanya akan ditiru mentah-mentah tanpa bersikap
selektif dalam memilih tayangan yang disajikan. Akibatnya, timbul kekhawatiran
akan pengaruh tayangan berita di televisi terhadap perilaku anak-anak dan
remaja.
Dari berbagai kemungkinan masalah
yang bisa timbul, tentu peran orang tua tidak bisa diabaikan, disiplin dan
pengawasan orang tua mutlak diperlukan. Sikap orang tua terhadap televisi akan
mempengaruhi perilaku anak. Maka sebaiknya orang tua lebih mengutamakan anak
daripada aktivitasnya. Orang tua yang terlalu asik dengan kesibukannya untuk
mencari nafkah akan berpengaruh terhadap kebiasaan sang anak yang tidak
teratur. Anak atau remaja yang sering diabaikan oleh orangtuanya seringkali
memiliki persepsi berbeda terhadap apa yang mereka lihat di televisi.
Di kala orang tua sudah selesai
dengan segala aktivitasnya, mereka biasanya menonton televisi. Menonton bersama
anak merupakan kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Namun secara tidak sadar
orang tua terkadang lalai dalam memilih tayangan mana yang sebaiknya disaksikan
oleh anak mereka. sebaiknya orang tua menentukan batasan bagi anak-anaknya
setelah membatasi dirinya terlebih dahulu untuk menonton televisi. Kemudian
mengikutsertakan anak dalam membuat batasan menonton juga menjadi cara efektif
agar anak menjadikan kegiatan menonton televisi hanya sebagai pilihan bukan
sebagai kebiasaan.
Orang tua harus bisa mengontrol
anaknya dengan cara mengawasi sang anak pada saat menyaksikan program televisi,
termasuk berita. Ketika tayangan berita tersebut mengandung unsur pornografis,
kekerasan, dan hedonisme, maka orang tua harus dapat memberikan penjelasan hal
mana saja yang patut dicontoh dan tidak. Untuk meminimalisir perubahan perilaku
menyimpang pada anak mereka akibat adanya tayangan tersebut, orang tua
sebaiknya mengusahakan agar televisi hanya sebagian kecil dari keseimbangan
hidup anak. Utamakan waktu untuk bermain bersama teman-temannya, untuk membaca
cerita dan istirahat, berjalan-jalan dan menikmati makan bersama keluarga.
Umumnya anak dan remaja senang belajar dengan melakukan berbagai hal, baik
sendiri maupun besama orang tuanya.
BAB III
PEMECAHAN MASALAH
Berdasarkan ekperimen yang dilakukan oleh Bandura, dapat dilihat
bahwa bahwa anak-anak mudah sekali melakukan modelling. Oleh karena itu,
tayangan TV yang tidak sesuai bagi anak dapat membentuk dan meningkatkan
perilaku agresif mereka.
Untuk mencegah dampak
negatif tayangan televisi, berikut beberapa cara yang dapat di lakukan:
·
Usahakan untuk mendampingi anak anda ketika
menonton dan diskusikan tayangan tersebut bersama. Dengan cara ini, anak anda
tidak hanya sekedar menonton tetapi mereka juga dapat memetik pelajaran
(insight) dari tayangan yg mereka tonton.
·
Buatlah jadwal menonton TV dan daftar film apa
saja yang boleh ditonton anak anda. Di luar jadwal tersebut, anda bisa
mengisinya dengan “quality time” bersama anak anda, misalnya membantu
mengerjakan PR, mengajari mereka memasak, berolahraga bersama, dan lain-lain.
·
Maraknya tayangan yang tidak bermutu seperti
sinetron dan reality show yang direkayasa dapat disiasati dengan berlangganan
TV kabel. Banyak tayangan TV kabel yang bermutu bagi anak seperti Discovery
Channel for Kids atau National Geographic. Satu lagi keuntungan TV kabel adalah
anda dapat memproteksi saluran-saluran tertentu sehingga tidak dapat ditonton
anak anda.
·
Dalam menonton film di televisi, selalu lihat
rating film tersebut. Di Indonesia, biasanya rating tayangan TV dibagi menjadi
SU (semua umur), BO (Bimbingan Orangtua), dan D (Dewasa). Untuk film-film
Amerika, ratingnya dikeluarkan oleh MPAA (Motion Picture Association of
America). Rating ini bisa anda temukan di DVD yang biasa anda beli untuk
mengetahui apakah film-film tersebut layak dikonsumsi oleh anak-anak. Rating G
(General Audience) untuk semua umur, PG (Parental Guidance Suggested) untuk
semua umur tapi sebaiknya dengan bimbingan orangtua, PG-13 (Parents Strongly
Cautioned) beberapa materi tidak sesuai untuk anak di bawah 13 tahun, R
(Restricted) untuk mereka yang berusia 17 tahun ke atas, dan NC-17 (No One 17
and Under Admitted) untuk orang dewasa (dulu rating NC-17 menggunakan rating X
atau semi porno).
·
Terakhir tapi tidak kalah penting,
bekerjasamalah dengan seluruh penghuni rumah anda (termasuk pembantu anda)
untuk mengatur tayangan televisi di rumah anda karena inkonsistensi dapat
membuat anak anda bingung. Segeralah mengganti saluran atau matikan televisi
jika ada adegan yang tidak sesuai bagi anak anda.
·
Batasi jam menonton anak, walaupun sulit dan mungkin ada
perlawanan dari anak sendiri, tetapi dengan memberikan pengertian kepadanya
diharapkan anak akan sedikit merubah kebiasaan menonton televisi.
- Dampingi anak ketika menonton televisi. Berikan pengertian seputar apa yang sedang ditontonnya. Bila ada muatan kekerasan didalamnya, beri pengertian bahwa hal tersebut tidak baik
- Agar anak dapat mengalihkan konsentrasinya pada kebiasaan menonton televisi, lebih baik jika Anda berikan buku-buku bacaan atau Anda bisa mengajak untuk melakukan kegiatan di luar rumah tentunya dengan pengawasan Anda.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Berdasarkan kajian yang telah
diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa pengaruh yang timbul akibat adanya
tayangan berita di televisi terhadap perilaku anak-anak dapat berupa pengaruh
negatif. Siaran berita di televisi berpengaruh terhadap anak-anak karena
kemampuan menciptakan kesan dan persepsi bahwa suatu muatan dalam layar kaca
menjadi lebih nyata dari realitasnya sehingga mereka ingin mencoba apa yang
mereka lihat di televisi itu agar dapat disebut sebagai anak gaul di
lingkungannya. Oleh sebab itu peran orang tua tidak bisa diabaikan, disiplin
dan pengawasan orang tua mutlak diperlukan. Sikap orang tua terhadap televisi
akan mempengaruhi perilaku anak mereka. Apabila orang tua mereka mengajarkan
dan membimbing ke arah yang baik, maka anak atau remaja tersebut tidak akan
terjerumus ke hal-hal yang tidak baik, dan begitupun sebaliknya.
4.2 Saran
- Pilihlah tayangan berita di televisi yang tidak mengandung unsur pornografis, kekerasan dan hedonisme.
- Tentukan dan bedakan waktu menonton televisi bagi anak-anak, remaja, dan yang sudah dewasa.
- Usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak.
- Alihkan perhatian dan kegemaran anak serta remaja dalam keluarga dari kecanduan menyaksikan acara televisi yang ditayangkan setiap hari kepada bentuk-bentuk kegiatan dan kesenangan baru yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Marwan. 2008. Dampak Siaran Televisi
Terhadap Kenakalan Remaja. [Terhubung Berkala] http://dutamasyar

No comments:
Post a Comment